Monday, December 15, 2008

Chronicles of Ancient Darkness: Out Cast

Chronicles of Ancient Darkness: Out Cast





Pengarang: Michelle Paver

Penerbit dan hak terjemahan: Matahati

Tahun penerbit : 2008

Lebar: 13,1 cm

Panjang: 20 cm

Tebal : 1,8 cm, 376 halaman




Akhirnya selesai juga aku membaca buku ini, setelah sekian lama ditunda-tunda trus untuk membacanya MyEm0.Com. Awal mula aku berkenalan dengan seri Chronicles of Ancient Darkness ini ketika aku meminjam buku dari persewaan buku yang saat itu merupakan judul pertama “Wolf Brother”. Pertama kali baca langsung jatuh hati dan setelah habis melahap buku itu, dan menunggu seri kedua yang berjudul “Spirit Walker”. Langsung deh aku ke took buku terdekat dan membelinya, begitu juga dengan seri ketiganya yang berjudul “Soul Eater”. Kali ini, saya akan membahas tentang buku yang berjudul “Out Cast” yang masih dalam seri Chronicles of Ancient Darkness. Selamat membaca.



***

Buku ini merupakan seri keempat dari Chronicles of Ancient Darkness. Seri-seri sebelumnya bisa dilihat di atas MyEm0.Com (Di atas tuh…). Secara keseluruhan, Chronicles of Ancient Darkness ini membahas tentang dunia dimana Torak (tokoh utama dalam seri ini) tinggal di zaman enam ribu tahun yang lalu setelah zaman es. Tentu saja kehidupan mereka masih seputar bertahan hidup di dalam hutan dan cara bertindak merekapun masih tradisional. Cerita dalam buku ini diawali dengan bertemunya Torak dengan Aki dari klan babi hutan. Baru bertemu sebentar saja, mereka langsung berselisih dan berkelahi. Secara tidak sengaja, Aki melihat tato pemangsa arwah di dada Torak (ada di buku Soul Eater). Aki tentu saja langsung melaporkan hal ini kepada ayahnya, sang pemimpin klan babi hutan. Kabar tentang Torak yang memiliki tato pemangsa arwah itu tersebar luas ke semua klan di hutan sampai ke luar pulau. Sehingga diadakanlah siding pertemuan klan-klan yang ada untuk membahas masalah Torak ini. Dalam pertemuan itu, masalah muncul, yaitu klan serigala yang selama ini diyakini oleh Torak sebagai klannya, tidak mengakui bahwa Torak adalah bagian dari klannya. Sehingga Torak otomatis menjadi tak berklan dan saat itu juga Torak menjadi buangan yang berarti siapapun yang bertemu dia di dalam hutan berhak membunuhnya dan Torak tidak diijinkan untuk tinggal di manapun, dan dia harus terus melarikan diri. Tidak hanya para klan-klan yang mengincar Torak, tapi juga masih ada Dukun Ular yang masih mengincar nyawanya. Apakah Torak dapat meyakinkan semua klan bahwa dia bukan pemangsa arwah? Dan siapakah nantinya yang akan bertahan hidup antara, Dukun Ular atau Torak? Untuk mengetahuinya silahkan membaca buku ini dan kalau belum mulai membaca dari awal, saya sarankan untuk membacanya dari awal seri Chronicles of Ancient Darkness.


Menurut saya, keunggulan dari buku ini adalah pertama, bahasa yang dipakai pengarang itu sangatlah mudah dimengerti dan santai bahasanya. Sehingga pembaca dengan enak membacanya tanpa merasa kelelahan. Kadang pembaca terbawa oleh cerita itu dan dengan tidak terasa membaca terus dari bab yang satu ke bab yang lain. Penulis dengan cerdik selalu memberikan misteri di akhir bab sebelum berganti bab selanjutnya. Sehingga pembaca dibuat penasaran di akhir bab dan tergoda untuk melanjutkan membaca ke bab berikutnya. Kedua, meskipun buku ini adalah buku fiksi (bukan kisah nyata), tetapi pengarang dari buku ini (Michelle Paver) berusaha untuk mengalami secara pribadi hal-hal yang terjadi dalam buku yang dia tulis. Contohnya: Paver pergi ke Churchill di Kanada utara untuk mengawasi beruang kutub sebelum dia menulis “Soul Eater” yang di dalam bukunya ada mengenai Beruang Kutub. Dia juga pergi ke suatu suku untuk belajar berburu di hutan, memasang tenda, dll. Jadi apa yang dia tulis dalam bukunya itu dia alami sendiri dari pengalamannya dia dan pembaca bisa ikut merasakan dan membayangkan segala sesuatu yang ada dalam buku itu dengan mudah. Ini merupakan nilai plus dari buku ini jika dibandingkan buku fiksi lainnya. Ketiga, sudut pandang yang dipakai penulis selalu berganti-ganti sehingga pembaca tidak bosan dalam membaca buku ini. Kadang penulis menggunakan sudut pandang Torak sebagai tokoh utama, kadang pula penulis menggunakan sudut pandang serigala untuk mengamati tokoh utama, dan para manusia lainnya yang ada di hutan. Tak jarang pula penulis menggambarkan juga situasi alam untuk mendukung ceritanya.


Ada sedikit kekurangan dalam buku ini, yaitu dalam hal klimaks cerita. Memang penulis dengan bagus mengantarkan pembaca sampai ke klimaks. Tetapi ketika sampai ke klimaks, penulis terkesan terlalu terburu-buru untuk menyelesaikan klimaks cerita. Menurut saya, klimaks dalam buku ini terlalu cepat yang sedikit mengurangi nilai buku ini. Tidak seperti buku fiksi lainnya yang membahas klimaks cerita dengan baik dan panjang. Tetapi meskipun terkesan singkat klimaks ceritanya, inti dari buku ini dapat tertangkap ke pembaca. Itu saja menurut saya sedikit kekurangan dalam buku ini.


Pesan moral yang kali ini ingin disampaikan penulis dalam buku ini adalah jangan menyerah dengan keadaan kita. Meskpun menurut nasib kita sudah benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tetapi ketika kita mau berusaha dan terus berjuang, kita pasti akan berhasil melewati masa sulit ini. Tentu saja dalam kehidupan kita sendiri kita juga mengandalkan Tuhan untuk membantu kita keluar dari suatu masalah. Karena dengan usaha manusia akan sia-sia, tetapi dengan bantuan Tuhan kita akan berhasil.


Saya merekomendasikan kepada orang-orang yang suka dengan cerita fiksi khususnya mengenai petualangan, untuk membaca buku ini dari seri pertamanya sampai seri keempatnya saat ini. Bahasa yang dipakai sungguh tidak akan membuat kita untuk bosan dalam membacanya. Ayo baca buku ini dan temukan sensasi seru ketika membacanya… MyEm0.Com



dashite

0 comments:

Post a Comment

Commentnya...

Template by:
Free Blog Templates